9 Keterampilan Jurnalistik yang Bermanfaat untuk "Content Marketing"

  • Admin Humassetda
  • 14 Oktober 2019
  • Dibaca: 225 Pengunjung

Sedikit sekali perusahaan yang memberi kesempatan pada jurnalis yang berpengalaman untuk menangani penulisan konten dan kampanye pemasaran konten mereka. Yang sering adalah, banyak perusahaan memasang iklan untuk content writercopywriter, penulis blog, hingga Social Media Specialist untuk memenuhi kebutuhan pemasaran konten online mereka.

Padahal, seorang jurnalis, atau penulis konten yang memiliki ketrampilan jurnalistik bisa memberikan manfaat yang lebih banyak melalui pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman mereka. Keterampilan ini termasuk penulisan konten yang aktual, strategi konten marketing, dan menjaga semuanya lebih teratur.

Dalam buku "Epic Content Marketing", Joe Pulizzi menunjukkan bahwa beberapa perusahaan dengan merek terkenal dan bisnisnya paling sukses - pikirkan Coca-Cola, Proctor & Gambler, Adobe, dan beberapa perusahaan global lainnya - berkampanye seperti perusahaan media tradisional. 

Merek global ini tidak berfokus pada penjualan produk atau layanan. Mereka menceritakan kisah yang menarik dalam setiap kampanye pemasaran mereka.

Jenis konten atau iklan seperti ini setidaknya bisa diciptakan oleh penulis konten yang memiliki pengalaman sebagai jurnalis. Karena mereka punya 10 keahlian yang berguna, yang mungkin tidak dimiliki oleh penulis konten biasa/non jurnalis.

Apa saja ketrampilan jurnalistik yang bermanfaat untuk Content Marketing?

1. 5W 1H untuk membuat konten

Ini adalah pendidikan paling dasar yang diperoleh setiap jurnalis. 5W 1H adalah formula sederhana yang digunakan wartawan untuk mengumpulkan informasi selama meneliti sebuah fakta. Suatu keharusan ketika mengumpulkan data atau mewawancarai seseorang.

Ketika kita menerapkan rumus 5W1H ini saat riset untuk menulis konten, kita akan memiliki semua bahan yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan dan memecahkan masalah - dua elemen utama untuk kampanye pemasaran konten. 

Agar konten online yang kita buat berhasil, setiap bagian - apakah itu blog, halaman layanan, infografis atau video - harus mencoba menjawab semua enam pertanyaan: siapa, apa, di mana, mengapa, kapan dan bagaimana.

Yang paling penting adalah siapa, apa, mengapa dan bagaimana. Jika keempatnya tidak dicakup, pesan dari konten yang kita buat akan gagal beresonansi dengan target pembaca yang dituju.

2. Kredibilitas materi konten

Jurnalis mendapat respek dari pembaca dengan melaporkan konten/berita yang faktual. Hal ini mengarah pada kesadaran merek  atau personal branding yang kuat (baca: kredibilitas) dan karier yang panjang. 

Para jurnalis terbaik selalu mengambil waktu ekstra untuk memeriksa fakta - terutama dari sumber online - dan mewawancarai atau mengutip hanya dari mereka yang paling mapan atau berkompeten dalam topik konten yang sedang dibuat.

Pemasaran konten yang didasarkan pada fakta yang longgar akan segera melemahkan otentitas tidak hanya konten itu sendiri, tetapi juga merek/produk yang menjadi tuan rumah konten tersebut. Karena itu, supaya pemasaran konten bisa mencapai kesuksesan, kredibilitas harus ditetapkan. Dan semua proses penulisan kontennya dimulai dengan materi yang benar secara faktual.

3. Kejelasan informasi yang disajikan

Seorang pencerita yang baik bisa mengambil topik yang membosankan dan membuatnya menarik untuk dibaca. Begitu pula dengan jurnalis. Poin ini banyak berhubungan dengan gaya penulisan atau pelaporan jurnalis tertentu.

Apa dasar dari mengambil sesuatu yang membosankan dan membuatnya menarik?

Kejelasan.

Wartawan disiplin dalam hal kejelasan berita. Wartawan yang baik selalu menuliskan berita yang jelas informasinya. Tidak ada hal yang bisa membuat bingung pembaca yang ditargetnya. Mereka selalu ingin menyampaikan informasi yang mereka peroleh kepada orang-orang sebanyak mungkin.

Kejelasan berarti dengan jelas menjawab 5 W dan 1 H sambil menghindari jargon apa pun yang biasanya terkait dengan materi pelajaran. Kejelasan juga berarti menghindari pemakaian kata atau istilah yang rumit, yang disesuaikan dengan target pembacanya.

Misalnya, jika kita menulis konten untuk jurnal medis dan target audiens kita adalah dokter kulit, kita dapat menggunakan kata-kata seperti hidradermabrasi atau mikrodermabrasi. Tapi jika target audiens kita adalah masyarakat bisnis yang awam dengan istilah medis, mereka tentunya menginginkan informasi dalam bentuk paling sederhana.

Wartawan memahami kejelasan, dan ini adalah aset yang sangat penting untuk kesuksesan pemasaran konten jangka panjang.

4. Keseimbangan informasi dalam konten

Jurnalis yang baik selalu membuat berita secara cover both side, artinya ada keseimbangan. Informasi yang disampaikan tidak berat sebelah karena selalu ada banyak sisi dari setiap cerita. Untuk menyampaikan pesan yang kredibel, jurnalis selalu mengupayakan pesan dari semua pihak harus seimbang.

Hal yang sama juga berlaku untuk upaya pemasaran konten bisnis. Banyak situs web perusahaan yang hanya menyampaikan "kami, kami, kami". Artinya konten yang mereka buat hanya mengekspose produk atau layanan mereka, tapi mengabaikan nilai manfaat yang semestinya bisa didapatkan pembaca. Keseimbangan antara informasi produk / layanan dan nilai bagi pembaca adalah suatu keharusan untuk kesuksesan pemasaran konten jangka panjang.

5. Memahami Audiens

Konten tidak akan berguna tanpa audiens yang ditargetkan. Sebuah konten yang baik harus tertuju pada audiens yang jelas profilnya (berdasarkan faktor geografis, demografis, psikografis hingga behavioristic). Dan tidak ada yang menguasai ini lebih baik daripada seorang jurnalis - terutama jurnalis berbasis niche/tematik.

Penulis konten memang dapat dengan mudah menemukan kata kunci yang tepat untuk dikejar. Tetapi jika kita tidak mengerti untuk siapa kita menuliskannya, semua upaya itu sia-sia.

Para jurnalis terbaik dilatih untuk memahami audiensi mereka dan menulis untuk mereka. Itu berarti mereka bisa menciptakan suara yang menarik bagi target audiens, dan selalu mengetahui pertanyaan dan masalah apa yang dimiliki audiens mereka.

6. Keterampilan Storytelling

Mendongeng melalui konten (storytelling content) bukanlah hal baru dalam dunia pemasaran konten. Bahkan saat ini model kampanye dengan mendongeng dianggap sebagai kunci pemasaran konten yang sukses.

Jurnalis dilatih untuk mendongeng setiap hari. Mereka tak hanya menyajikan fakta, tapi juga bisa menemukan alur cerita di balik atlet, penjahat, tokoh politik, hingga masyarakat kecil yang paling terpinggirkan.

Begitu pula dalam pemasaran konten. Kita dapat membuat alur cerita yang menawarkan informasi berharga kepada pembaca di berbagai media, baik itu di blog atau di media sosial. Bawalah suara dan wajah ke dunia bisnis melalui dongeng yang baik - dan itu sudah terbukti.

Contohnya adalah ketika video iklan Gillette memicu perdebatan skala nasional di Amerika Serikat. Lihat juga video-video iklan dari P&G. Hampir semua merek global mengkampanyekan konten pemasaran mereka secara storytelling. Mereka tidak menjual produk atau layanan, tapi menceritakan sebuah kisah dengan penekanan supaya pelanggan lebih mengingat merek mereka.

7. Membiasakan diri dengan tenggat waktu

Wartawan harus terbiasa berurusan dengan tenggat waktu. Bukan lagi mingguan, tapi kadang-kadang harus setiap hari. Membiasakan diri dengan tenggat waktu yang singkat bisa sangat bermanfaat bagi penulis konten. Terutama untuk fokus dan berpikir jernih saat hendak menyelesaikan pekerjaan terbaik mereka dalam waktu paling sedikit.

8. Terbiasa dengan proses editorial yang sistematis

Dalam proses pembuatan berita, wartawan tidak mungkin bekerja sendirian. Ada editor yang selalu memeriksa hasil wawancara hingga finalisasi berita sebelum itu ditayangkan. Artinya, proses pengerjaan berita harus melalui proses editorial yang sistematis.

Jika sebuah bisnis serius tentang konten yang mereka buat, mereka harus memiliki proses editorial yang sistematis pula. Ini berlaku untuk semua jenis produksi konten, mulai dari blog ke konten video hingga infografis.

Contohnya untuk penulisan artikel, ada beberapa proses yang harus dilewati sebelum artikel itu ditayangkan:

  • Briefing tema dan target audiens (dilakukan oleh tim marketing dan editor)
  • Penelitian kata kunci (dilakukan oleh SEO Specialist).
  • Proses penulisan konten (dilakukan oleh penulis konten)
  • Proses penyuntingan (dilakukan oleh editor)
  • Optimalisasi SEO dalam konten (dilakukan oleh editor dan SEO Specialist)
  • Finalisasi konten (dilakukan oleh editor dan penulis konten).

Sepanjang enam lapisan proses tersebut, penulis konten harus siap dengan beberapa kritik. Tapi ini bukan masalah pribadi. Ini semua tentang memberikan pekerjaan dengan kualitas terbaik kepada klien. Seperti seorang jurnalis, semua penulis konten harus siap menerima kritik dan belajar darinya.

9. Konten / Kalender Editorial yang Sering & Konsisten

Pekerjaan yang baik selalu dihasilkan dari perencanaan yang baik pula. Bagi banyak wartawan top, mereka selalu membuat kalender editorial yang berisi tema berita dan jadwal penayangannya.

Begitu pula dalam pemasaran konten. Frekuensi dan konsistensi adalah kunci pemasaran konten yang kuat. Ini membantu menjaga alur cerita sebuah merek menjadi lancar dan bergerak maju.

Dalam pemasaran konten, ada 4 jenis konten berdasarkan faktor linimasa: Konten Editorial Plan dan Special Event (keduanya terencana) serta Riding the Moment dan Crisis Management Content (tidak terencana). Penulis konten yang baik, sebagaimana seorang wartawan, harus bisa dan terbiasa menciptakan blok waktu untuk tugas tertentu. Dengan begitu, ia tidak akan kebingungan dan kehabisan ide untuk mengerjakan proyek-proyek yang berkala.

***

 sumber: https://www.kompasiana.com/primata/5d066f413ba7f737040bddd4/9-ketrampilan-jurnalistik-yang-bermanfaat-untuk-content-marketing?page=all

Share Post :